Arsip Tag: Tenun ikat NTT

Nia Akhirnya Memperoleh Beasiswa dan ini Pesan Rektor IAKN Kupang

NTT AKTUAL. KUPANG. Pada akhirnya berkat keterampilan yang dimiliki dalam menenun tenun ikat, wanita muda bernama lengkap Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia, yang berasal dari desa Hoineno Kecamatan Nunkolo Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan sedang menempuh studi di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK), dapat memperoleh Beasiswa dari IAKN Kupang.

Saat ditemui Media ini di ruang kerjanya pada, Rabu (16/09/2020) Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd.,M.Si, mengatakan beasiswa bidik misi yang diperoleh oleh Nia yaitu sebesar Rp 12.600.000 per tahun. Beasiswa ini terus diberikan hingga Nia menyelesaikan studinya di IAKN Kupang.

Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd.,M.Si (kiri) saat foto bersama dengan Antonia Tamonob (kanan) di ruang kerja Rektor IAKN Kupang, Rabu (16/09/2020). Dokumentasi : Nataniel Pekaata/NTT Aktual

“Tahun ini Nia sudah memperoleh beasiswa bidik misi sebesar Rp 12.600.000, jadi tahun depan dia juga akan memperoleh Rp 12.600.000 untuk membantu studinya. Beasiswa bidik misi ini akan diberikan setiap tahun  kepada Nia hingga dia menyelesaikan kuliah nya di IAKN Kupang,” kata Harun Natonis.

Dirinya menambahkan beasiswa bidik misi yang diperoleh oleh Nia harus digunakan dengan baik untuk kepentingan kuliah agar pada akhirnya membawa dampak yang baik untuk studinya. “Beasiswa ini Negara yang bantu bukan saya yang bantu, kebetulan disediakan melalui IAKN Kupang dan untuk itu Nia harus lebih semangat belajar dan juga memiliki semangat untuk berprestasi dan berkompetisi,” ujar Harun Natonis.

“Kalau pemerintah sudah membantu seperti ini, kita harus bisa menunjukan rasa terimakasih kita dengan semangat belajar dan kerinduan untuk berprestasi, agar bisa menjadi motivasi pula bagi teman-teman yang lain bahwa kita bisa berprestasi selama kita punya potensi dan juga niat untuk mengembangkan potensi yang ada tersebut,” pesan Harun Natonis kepada Nia.

Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd.,M.Si, pada kesempatan ini juga menambahkan atas nama Lembaga dirinya meminta agar Nia bisa lebih giat lagi belajar dan juga terus mengembangkan keterampilannya karena tidak semua orang bisa memiliki keterampilan yang di miliki oleh Nia,

“Oleh karena itu saya minta agar Nia bisa mengembangkan terus keterampilannya secara maksimal sehingga nanti seandainya sudah menyelesaikan studi nya dan Nia belum sempat mendapatkan pekerjaan Nia bisa menggunakan pula keterampilannya ini sebagai mata pencarian atau pekerjaan alternatif karena sekarang ini banyak orang juga yang menyukai hasil tenun,” kata Harun Natonis.

Rektor IAKN Kupang juga berpesan agar keterampilan menenun yang di miliki oleh Nia kedepannya dapat terus dikembangkan dan bisa pula dijadikan sebagai sumber wira usaha bagi dirinya.

“Menjadi Sarjana itu merupakan modal juga nanti kedepannya untuk Nia, tetapi paling tidak dengan kemampuan menenun yang di miliki Nia juga bisa berwira usaha,” ujarnya.

Pada kesempatan ini Rektor IAKN Kupang juga memesan kepada Nia untuk membuat dua baju adat untuk dirinya.”Tujuan saya untuk memesan dua baju adat dari Nia ini agar saya bisa mengatakan kepada orang lain juga, bahwa baju yang dikenakan adalah hasil tangan dari Mahasiswa saya sendiri. Saya pesan ini saya akan membayarnya bukan gratis. Saya bisa saja pesan di toko, tetapi saya rindu saya bisa mengenakan langsung dari hasil keterampilan Nia,” jelas Harun Natonis.

Dikesempatan yang sama Antonia Tamonob mengatakan dirinya mungucapkan terimakasih kepada Rektor IAKN Kupang yang sudah membantu dirinya hingga dirinya bisa memperoleh beasiswa bidik misi dari IAKN Kupang.

“Saya sangat berterimakasih kepada bapak Harun Natonis selaku Rektor IAKN Kupang yang sudah membantu saya hingga saya bisa memperoleh beasiswa bidik misi,” ungkap Antonia Tamonob.

Nia juga mengatakan uang beasiswa bidik misi untuk tahun ini sudah diperolehnya, dimana sudah masuk direkeningnya sejak bulan Juli 2020 lalu dan telah digunakan nya untuk membantu studinya dan untuk terus mengembangkan usaha menenunnya.

“Uang beasiswa nya sudah masuk di rekening saya sejak bulan Juli 2020 lalu, dan uang tersebut sudah saya gunakan untuk beli alat leptop, beli benang untuk menenun dan saya gunakan juga untuk bayar kos dan untuk bayar kuliah,” ujar Nia.

Untuk diketahui dikesempatan ini sebagai bentuk ungkapan terimakasihnya, Nia juga memberikan selendang adat khas dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kepada Rektor IAKN Kupang, yang dimana selendang dengan motif buna yang diberikan ini merupakan hasil tangan atau keterampilan tenun nya sendiri. (Red)

Penulis + Editor : Nataniel Pekaata

Berkat Keahlian dan Semangatnya, Antonia Tamonob Peroleh Beasiswa Dari IAKN Kupang

NTT AKTUAL. KOTA KUPANG. Berkat semangat, kerja keras dan keahlian yang dimiliki dalam menenun tenun ikat akhirnya wanita muda bernama lengkap Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia, yang berasal dari desa Hoineno Kecamatan Nunkolo Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan sedang menempuh studi di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK), dapat memperoleh Beasiswa dari IAKN Kupang.

“Karena dari berita yang saya baca di Media Online NTTAktual.com, saya hari ini langsung menyempatkan diri untuk melihat keberadaan Antonia Tamonob di kosannya yang berusaha mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya dari hasil tenun. Hari ini sebagai Pimpinan Lembaga saya berkomitmen untuk membantu dan bantuan ini berupa bantuan beasiswa kepada Mahasiswi saya Antonia Tamonob, dengan kategori bantuan beasiswa bidik misi yakni sebesar Rp 12.000.000 (Dua Belas Juta Rupiah) per tahun,”

Hal ini diutarakan Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd.,M.Si kepada NTT Aktual saat dirinya bersama staf mengunjungi kosan Antonia Tamonob, Kamis (30/04/2020) siang.

Harun Natonis menambahkan, IAKN Kupang berencana akan membantu Antonia Tamonob hingga menyelesaikan kuliahnya.”Saya bangga karena selain digunakan untuk beristirahat, tempat tidurnya digunakan juga untuk menenun dan dari hasil tenun ini digunakannya untuk membantu biaya kuliahnya. Ini sangat berbeda dengan Mahasiswa/Mahasiswi lain umumnya dan merupakan sesuatu yang baru. Beasiswa dengan kategori bidik misi ini diberikan kepada Antonia Tamonob untuk lebih memotivasinya dalam menggapai cita-cita dan dapat menyelesaikan kuliahnya di IAKN dengan baik,” ujar Harun Natonis.

Pada kesempatan ini Harun Natonis berpesan kepada Antonia Tamonob untuk terus mengembangkan keahliannya dalam menenun dan jangan pernah meninggalkan keahliannya menenun ini.”Apa yang dilakukan Nia merupakan inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk selalu mengembangkan keahlian dan kemampuan positif yang dimiliki agar pada akhirnya bisa berguna untuk diri sendiri dan sesama,” tutur Harun Natonis.

Rektor IAKN Kupang, Dr. Harun Y. Natonis, S.Pd.,M.Si, juga mengisahkan selama berkualiah dulu biaya kuliah dirinya juga ditopang dari keahlian ibunda nya dalam menenun tenun ikat dan untuk itu dirinya berpesan agar generasi muda jangan pernah merasa gengsi untuk mengembangkan keahlian yang dimiliki, selama keahlian itu merupakan keahlian yang positif dan baik adanya, tutup Harun.

Ditempat yang sama Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia, mengatakan dirinya sangat berterimakasih kepada pihak kampus yang sudah memberinya beasiswa.

“Saya sangat berterimakasih sudah diberikan beasiswa dan semoga Tuhan membalas kebaikan bapak/ibu pimpinan yang ada di IAKN Kupang,” ungkapnya.

Dirinya juga berkomitmen walaupun sudah mendapatkan beasiswa dari IAKN Kupang, dirinya akan tetap menekuni dan mengembangkan keahlian menenun yang dimilikinya seperti harapan bapak Rektor, pungkas Nia.

Untuk diketahui pada pemberitaan sebelumnya di Media Online NTTAktual.com edisi Rabu (29/04/2020), wanita muda bernama lengkap Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia merupakah salah seorang Mahasiswi IAKN Kupang, yang dimana untuk memenuhi kebutuhannya di Kota Kupang dan juga untuk membiayai kuliahnya Nia harus rajin menenun kain tenun ikat, setiap kali ada permintaan dari orang.

Selain itu Nia juga harus menjadikan tempat tidur di kos nya sebagai fasilitas pelengkap dalam menenun, dan barulah selesai menenun dirinya dapat merebahkan badan sejenak di tempat tidur yang sama untuk beristirahat. (Red)

Penulis + Editor : Nataniel Pekaata

Bermodalkan Keahlian Menenun, Wanita Ini Dapat Biayai Kuliah Sendiri

NTT AKTUAL. KOTA KUPANG. Dalam menempuh pendidikan saat ini kerap kali banyak pribadi yang dimanjakan dengan fasilitas yang disediakan orang tua baik dari segi biaya ataupun fasilitas kendaraan dan sejumlah fasilitas lainnya.

Hal ini sangat berbanding jauh dengan yang dialami oleh sosok wanita muda bernama lengkap Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia, yang berasal dari desa Hoineno Kecamatan Nunkolo Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dimana untuk memenuhi biaya kuliah dirinya harus rajin menenun kain tenun ikat setiap kali ada permintaan dari orang.

Dirinya yang saat ini sedang menempuh studi di Insititut Agama Kristen Negeri Kupang dan mengambil jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus rela menjadikan tempat tidur di kos nya untuk dijadikan sebagai fasilitas pelengkap dalam menenun, dan barulah selesai menenun dirinya dapat merebahkan badan sejenak di tempat tidur yang sama untuk beristirahat, jelas Nia saat ditemui NTT Aktual di sela-sela aktifitasnya menenun, Rabu (29/04/2020).

Antonia Tamonob atau akrab disapa Nia, saat melakukan aktifitas menenun nya menggunakan tempat tidur yang ada di kosannya. (Foto : Nataniel Pekaata)

“Disaat ingin menenun saya harus jadikan tempat tidur saya di kos sebagai fasilitas penunjang untuk menenun yakni diatas kepala tempat tidur tersebut saya gunakan sebagai media untuk mengantung tali tenun dan agar hasil tenun yang telah ditenun tidak rusak saat tidur saya harus dapat meletakan kepala di bawah hasil tenun. Beta kalau tidur harus taru kepala di bawah itu hasil tenun dong supaya itu tenun sonde rusak kaka,” ujar Nia singkat menggunakan dialek Kupang.

Nia menambahkan motif tenun yang sering digunakannya dalam menenun yaitu motif tenun Buna (Bunga) yang merupakan salah satu motif tenun asli Amanatun dan tenunan yang sering dihasilkannya meliputi Selendang, Sarung dan Selimut. Sedangkan bahan dasar tenun yang digunakannya adalah benang yang dibelinya dari toko.

Berbagai hasil tenun dengan motif buna yang dihasilkan oleh Nia lewat keahlian menenun yang di milikinya. (Foto : Istimewa)

Dirinya mengisahkan tidak hanya mencari uang untuk biaya kuliah saja tetapi dirinya sudah mulai menenun sejak kelas 4 SD untuk dapat membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu dirinya pula dalam membeli alat-alat sekolah baik seperti buku, tas, sepatu dan sebagainya karena dirinya hanya seorang anak petani dan dia tak mau merepotkan orang tuanya.

“Saya dari kelas 4 SD sudah mulai menenun dan saya penuhi kebutuhan pendidikan saya dari SD, SMP, SMA hingga kuliah saat ini dari hasil tenun, karena saya hanya anak seorang petani dan ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dulu sebelum datang kuliah di Kota Kupang ayah dan ibu selalu membantu saya menenun yakni dengan membantu mengguling benang tenun dan kalau hasil tenun itu sudah jadi dan berhasil terjual untuk menyenangkan hati orang tua, saya sering membeli baju dan pakian baru untuk mereka karena jujur saya sangat mencintai kedua orangtua saya,” ujarnya.

Bermodalkan keahlihan menjahit dia bertekad untuk melanjutkan studinya dan untuk itu dirinya datang ke Kota Kupang sejak April 2019 dan saat ini dirinya sudah berada di Semester dua.

“Saya mau menunjukan kepada keluarga kalau saya bisa menggapai masa depan yang baik dan untuk itu saya datang ke Kota Kupang untuk menggapai cita-cita saya sebagai Guru Agama Kristen karena cita-cita ini sudah saya impikan sejak kecil,” tuturnya.

Dengan modal keahlian menenun dan teked menggapai masa depan yang lebih baik dirinya terus menggeluti keahlian menenun ini dan meski harus ekstra membagi waktu antara kuliah dan menenun tidak pernah menyurutkan semangatnya, jelas Nia.

“Untuk bayar kos dan bayar uang kuliah serta untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari di Kupang saya peroleh dari hasil menenun dan itu semua tetap saya syukuri karena tekad saya seperti moto hidup saya yakni, ingin dapat membahagikan kedua orang tua saya,” ungkap Nia

Hasil tenun yang dijualnya cukup berfariasi harganya dan relatif terjangkau, yakni untuk setiap selendang tenun nya dijual dengan harga Rp 100.000 sampai Rp 150.000, sementara itu untuk sarung dan selimut dirinya jual dengan harga Rp 800.000 sampai dengan Rp1.500.000.

“Harga ini berfariasi dari tingkat kesulitannya dan sumber bahan yang digunakan, kalau untuk tenunan yang cukup rumit dan menggunakan banyak benang itu memang harganya agak sedikit lebih mahal,”

Dirinya mengharapkan dari keahlian menenun yang dimilikinya ini, dirinya bisa berhasil menyelesaikan kuliahnya dan bisa menggapai cita-cita nya sebagai seorang guru dan pada akhirnya dirinya bisa membahagiakan hati kedua orang tua yang sangat dicintai, tutup Nia. (Red)

Penulis + Editor : Nataniel Pekaata

Galeri Feotnai Ma’tani Hadirkan Beragam Produk Motif NTT

NTT AKTUAL. KEFAMENANU. Toko yang diberi nama Galeri Feotnai Ma’tani yang berada tepatnya di Jalan Eltari KM 2 Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) ini menyediakan Beragam Produk bermotifkan berbagai Daerah di Provinsi NTT lebih khususnya daerah yang ada di daratan Timor.

Hal ini di sampaikan pemilik Galeri Feotnai Ma’tani, Vicky Simonis saat di temui NTT Aktual, Selasa (07/04/2020).

“Disini tersedia berbagai produk diantaranya, ada kain tenun Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Belu dan Malaka, ujarnya”.

Vicky Simonis saat menunjukan berbagai koleksi kain tenun yang dimiliki Galeri Feotnai Ma’tani. Foto : Yanri Maunaben/ NTT Aktual

Selain kain tenun dari empat Kabupaten di Daratan Timor Nusa Tenggara Timur, Vicky Simonis  juga mengungkapkan bahwa toko miliknya menjual pula berbagai produk-produk lain yang di hasilkan dari kain tenun.

“Produk lain dari kain tenun yang kita jual yakni seperti dompet dari kain tenunan, ada Tas, ada juga Topi yang di buat dari tenun juga. Ada juga anting-anting terus muti-muti juga ada dan kita juga menjual madu asli. Selain itu ada pula perhiasan serta pernak-pernik untuk Ritual adat,” ujarnya.

Vikcy Simonis menambahkan harga berbagai produk dari hasil tenunan ini dijual dengan harga yang bervariasi seperti pada harga kain tenun berbeda dengan tas, dompet dan sebagainya.

“Harga dari produk ini berbeda-beda seperti pada kain, kain itu tergantung dari tenunan karena kita pakai kelas tenunan, ada harga kelas tenunan yang mulai dari Rp.150 ribu untuk motif sotis biasa, dan ada yang sampai jutaan,” ungkapnya.

Harga kain tenun yang bervariasi dari RP. 100 ribu hingga jutaan Rupiah ini berbeda dengan harga pada Tas, topi, selendang, anting-anting dan lainnya.

“Untuk tas, topi, selendang dari kain tenun serta anting-anting dan lainnya kami menjualnya dengan harga yang hanya berkisar dari dari Rp. 10 ribu hingga Ratusan ribu saja,” kata Vicky.

Ada pun cara penjualan yang di pakai oleh Vicky Simonis sebagai pemilik Toko, dirinya menjelaskan bahwa selain melakukan transaksi di tempat dirinya juga sering melakukan transaksi secara online dengan memanfaatkan akun media sosialnya seperti Facebook, WhatsApp dan Instagram.

“Sedangkan kalau untuk penjualan ini sayakan memiliki tokoh jadi saya melakukan penjualan disini tapi ada juga sistim penjualan lain yaitu secara online di media sosial contoh nya di Facebook, WhatsApp dan Instagram,” tutupnya. (Red)

Penulis    : Yanri Maunaben
Editor       : Nataniel Pekaata