Arsip Tag: Karantina Pertanian Kupang

Cegah Masuknya HPHK-OPTK, Karantina Pertanian Kupang Lakukan Pemusnahan

NTT AKTUAL. MOTAAIN. Karantina Pertanian Kupang melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain kembali melakukan pemusnahan terhadap komoditas pertanian yang masuk ke wilayah NKRI dikarenakan tidak adanya Sertifikat Kesehatan Karantina (Phytosanitary Certificate) dari negara asal, Jumat (23/09/2022).

“Dokumen kesehatan dari negara asal sebagai jaminan kesehatan bagi komoditas pertanian yang diimpor dan ini penting guna melindungi sumber pangan kita,” ungkap Nina Liban, Dokter Hewan Karantina di tempat pemasukan PLBN Motaain.

Sebelum dilakukan pemusnahan, sesuai Pasal 44 ayat (3) UU No. 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, Karantina Pertanian Kupang telah memberi kesempatan kepada pemilik dalam jangka waktu 3 hari kerja untuk melengkapi dokumen tersebut, tetapi tidak dilakukan oleh pemilik.

Selanjutnya, Nina Liban menyampaikan pihaknya melakukan pemusnahan komoditas pertanian berupa olahan daging sapi 95 kilogram, olahan daging ayam 520 kilogram, olahan daging babi 173 kilogram, madu sebanyak 12 liter, Beras 80 kilogram, kacang-kacangan 25 kilogram, bawang merah 5 kilogram, dan kentang sebanyak 20 kilogram. Komoditas pertanian tersebut berasal dari Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Khaeruddin, selaku Subkoordinator Pengawasan dan Penindakan Karantina Pertanian Kupang mengungkapkan, “Setelah dilakukan penahanan dikarenakan melanggar Pasal 33 UU No 21 Tahun 2022 ternyata pemilik barang tidak mampu melengkapi dokumen yang dipersyaratkan sesuai waktu yang ditetapkan karena itu kami lakukan pemusnahan”.

Cara pemusnahan yang ditetapkan Pasal 47 ayat (1) UU 21 Tahun 2019 yang menyatakan bila pemusnahan dilakukan dengan cara membakar, menghancurkan, mengubur, dan/atau pemusnahan lain yang sesuai, sehingga media pembawa tidak mungkin lagi menjadi sumber penyebaran hama dan penyakit serta tidak menganggu kesehatan manusia dan tidak menimbulkan kerusakan sumber daya alam hayati.

Tindakan karantina pemusnahan ini dihadiri oleh instansi terkait yaitu Bea dan Cukai, Imigrasi, Karantina Kesehatan, BNPP Motaain, BKIPM Motaain, Bais TNI, Polres Kabupaten Belu, Kodim Kabupaten Belu, Satgas Pamtas, Pospol Motaain, serta Ketua Gugus Tugas PMK. “Kegiatan ini sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat betapa pentingnya Sertifikat Kesehatan Tumbuhan maupun Hewan menyertai komoditas pertanian yang dilalulintaskan dan dimasukan ke wilayah Indonesia”, tambah Yulius Umbu Hunggar selaku Kepala Karantina Pertanian Kupang. (**)

Sumber berita + foto : Humas Karantina Pertanian Kupang

Provinsi NTT Turut Serta Meriahkan Gebyar Ekspor Akhir Tahun 2021

NTT AKTUAL. KUPANG. Menutup tahun 2021, Kementrian Pertanian Republik Indonesia melalui Badan Karantina Pertanian menggelar Gebyar Ekspor produk pertanian secara serentak di 34 provinsi seluruh Indonesia. Kegiatan ini mengusung tema “Ekspor Tangguh, Indonesia Tumbuh” dihadiri langsung Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL), Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar. Total nilai produk pertanian yang dieskspor mencapai Rp. 14,4 triliun dengan volumen sebesar 1,3 juta ton ke 124 negara di dunia.

Turut serta, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ambil andil dalam Gebyar Ekspor Produk Pertanian 2021 secara daring di Ruang Rapat Bolelebo, Bandara El Tari Kupang, pada Jumat (31/12/2021). Acara dihadiri oleh Perwakilan Gubernur NTT, Perwakilan Polda NTT, Kepala Karantina Pertanian Ende, Kepala Karantina Pertanian Kupang, Bea dan Cukai, Imigrasi, BKIPM , BKSDA, serta perwakilan dari berbagai instansi lainnya.

Provinsi Nusa Tenggara Timur menyumbang  ekspor komoditas pertanian sebanyak 60,3 ton dengan nilai 1,8 miliar rupiah pada periode 16-30 Desember 2021. Secara global, nilai ekspor barang produk pertanian tahun 2021 provinsi NTT mengalami kenaikan sebesar 19,2 miliar dibandingkan tahun sebelumnya dengan lebih dari 10 negara tujuan di dunia. Diantaranya, Timor Leste, Singapura, Hongkong, Prancis, dan Jepang. Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat hampir di seluruh aspek perindustrian mengalami defisit sepanjang masa pandemi Covid-19.

“Komoditas Pertanian NTT yang diekspor didominasi oleh meubel jati, bunga potong, DOC dan pakan ternak. Hanya dalam kurun waktu 14 hari, Provinsi NTT mampu mengekspor lebih dari 60 ton berbagai macam komoditas pertanian dengan nilai yang fantastis. Tak hanya itu, nilai ekspor barang produk pertanian mengalami kenaikan yang signifikan pada tahun 2021 sebesar 51,7 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 32,5 miliar rupiah saja. Upaya yang telah terwujud ini membuat kita semakin yakin, bahwa NTT mampu meningkatkan giat ekspor pada tahun yang akan datang”, pungkas Yulius Umbu Hunggar, Kepala Karantina Pertanian Kupang. (*)

Sumber : Humas Karantina Pertanian Kupang

Siaga Ramadhan, Karantina Pertanian Kupang Gelar Patroli di Zona Rawan Batas Negara

NTT AKTUAL. MOTAAIN. Karantina Pertanian Kupang lakukan patroli bersama di zona rawan batas negara Indonesia – Timor Leste yang didampingi oleh personil Satgas Pamtas Yonif 742/SWY, Selasa (20/04/2021) pagi.

Patroli ini sebagai bentuk realisasi dari koordinasi yang telah dilakukan antara Subkoordinator Pengawasan dan Penindakan Karantina Pertanian Kupang dengan Komandan Satgas Pamtas Yonif.

Tujuannya yaitu untuk menelusuri jalur-jalur yang rawan pemasukan komoditas pertanian secara ilegal selama bulan ramadhan.

“Ramadhan tahun lalu banyak kami temui pemasukan komoditas hewan atau tumbuhan lewat jalur sungai, maka dari itu tahun ini kita adakan patroli pengawasan bersama”, ungkap Nina Liban, Penanggungjawab Karantina Pertanian Wilayah Kerja Motaain.

Jalur patroli ditempuh dengan jarak 3 kilometer, dengan rute menyusuri sungai yang berada di sekeliling Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, selanjutnya melewati pagar pembatas antar negara, dan kemudian kembali menuju gerbang depan pintu masuk PLBN Motaain.

Saat patroli berlangsung ternyata tidak ditemukan adanya aktivitas ilegal, hanya saja masih banyak dijumpai ternak milik warga yang dilepasliarkan, sehingga bisa melintas dari satu negara ke negara lain yang bisa menjadi penyebab penularan suatu penyakit.

“Titik-titik rawan penyelundupan sebelumnya sudah beberapa kali kami pantau, biasanya sering terjadi pada waktu subuh atau sore menjelang malam”, ujar Wandi, Danpos Satgas Pamtas Pos Motaain.

“Dengan adanya patroli ini diharapkan dapat mencegah pemasukan komoditas pertanian secara ilegal oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan bisa mencegah masuk dan tersebarnya penyakit hewan maupun tumbuhan ke dalam wilayah Indonesia”, tambah Yulius Umbu Hunggar, Kepala Karantina Pertanian Kupang. (*)

Sumber berita + foto : Humas Karantina Pertanian Kupang

Tidak Miliki Sertifikat Kesehatan Dari Negara Asal, Benih dan Buah Kering Asal Tiongkok dan Singapura Dimusnahkan

NTT AKTUAL. KUPANG. Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Kupang kembali melakukan pemusnahan terhadap komoditas pertanian yang masuk ke wilayah negara Republik Indonesia melalui Kantor Pos Kupang dikarenakan tidak adanya Sertifikat Kesehatan (Phytosanitary Certificate) dari negara asal, pada Senin (29/03/2021).

“Dokumen kesehatan dari negara asal sebagai jaminan kesehatan bagi komoditas pertanian yang diimpor dan ini penting guna melindungi sumber pangan kita,” ungkap Heru, Subkoordinator Bidang Pengawasan dan Penindakan Karantina Pertanian Kupang.

Sebelum dilakukan pemusnahan, Karantina Pertanian Kupang telah memberi kesempatan kepada pemilik dalam jangka waktu 3 hari (sesuai UU No 21 Tahun 2019 pasal 45 ayat 4) untuk melengkapi dokumen tersebut, tetapi tidak dipenuhi.

Selanjutnya, Heru menyampaikan pihaknya melakukan pemusnahan komoditas pertanian berupa benih biji Hyacinthus sebanyak 2 (dua) bungkus dan irisan buah apel, nanas, jeruk dan buah naga yang dikeringkan sebanyak 200 lembar dengan berat 4 kg asal Tiongkok dan Singapura.

Benih tergolong dalam kategori risiko tinggi (high risk) yang dapat memiliki risiko penyebaran virus atau bakteri. Potensi penyebaran penyakit bagi produk benih sangat berbahaya karena bersifat laten, yaitu gejala penyakit dapat muncul/terlihat ketika benih tersebut sudah tumbuh di pertanaman. Sehingga dapat menyebabkan potensi kerugian ekonomi yang sangat tinggi. Oleh karena itu Karantina Pertanian memiliki peran untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit dari negara luar tersebut dengan melakukan pemeriksaan setiap komoditas yang dibawa ditempat pemasukan maupun pengeluaran seperti bandara, pelabuhan, kantor pos maupun pos lintas batas negara.

Sesuai dengan amanat Undang-undang nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan pasal 33 dilakukan tindakan karantina pemusnahan. Pemusnahan media pembawa ini dilakukan dengan cara dibakar.

Hal ini sesuai dengan tata cara pemusnahan yang ditetapkan Undang-undang nomor 21 tahun 2019 pasal 47 ayat 1 yang menyatakan bila pemusnahan dilakukan dengan cara membakar, menghancurkan, mengubur, dan/atau pemusnahan lain yang sesuai, sehingga media pembawa tidak mungkin lagi menjadi sumber penyebaran hama dan penyakit serta tidak menganggu kesehatan manusia dan tidak menimbulkan kerusakan sumber daya alam hayati.

Tindakan pemusnahan yang berlangsung di Kantor
Karantina Pertanian Kupang dihadiri oleh instansi terkait yaitu Bea Cukai, Kepolisian Sektor (Polsek) Alak, dan Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM).

“Kegiatan ini sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat betapa pentingnya Sertifikat Kesehatan Tumbuhan maupun Hewan menyertai komoditas pertanian yang dilalulintaskan dan dimasukan ke wilayah Indonesia”, tambah Yulius Umbu Hunggar selaku Kepala Karantina Pertanian Kupang. (*)

Sumber berita + foto : Karantina Pertanian Kupang

Tingkatkan Pelayanan yang Berkualitas, Karantina Pertanian Kupang Canangkan Zona Integritas

NTT AKTUAL. KUPANG. Pembangunan Zona Integritas di anggap sebagai role model Reformasi Birokrasi dalam penegakan integritas dan pelayanan berkulitas, dengan demikian pembangunan Zona integritas menjadi hal penting dalam pencegahan korupsi di pemerintahan.

Sejalan dengan janji Pegawai Negeri Sipil sebagai pelayan publik, peningkatan mutu pelayanan harus selalu ditingkatkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui penandatangan Pakta Integritas yang merupakan pernyataan kesanggupan PNS dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenang sesuai dengan perundang-undangan.

Pada Rabu (3/02/2021) bertempat di Ruang Rapat BKP Kelas I Kupang, Karantina Kupang gelar Penandatanganan Pakta Integritas dibarengi dengan Pencanangan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih  dan Melayani (WBBM). Acara dihadiri oleh Ombudsman NTT, Kepala Balai, Kepala Subbagian Tata Usaha, Subkoordinator Wasdak, Subkoordinator Karantina Hewan, Subkoordinator Karantina Tumbuhan, Perwakilan Pegawai, dan THL BKP Kelas I Kupang.

Dokumentasi : Karantina Pertanian Kupang

“Penandatanganan pakta integritas ini diharapkan dapat direalisasikan oleh ASN BKP Kelas I Kupang dengan rasa penuh tanggungjawab, integritas yang kuat, serta dilandasi kejujuran guna mewujudkan pelayanan publik yang semakin baik” ungkap Yulius Umbu Hunggar, Kepala Karantina Pertanian Kupang.

Di kesempatan yang sama Kepala Ombudsman Perwakilan NTT, Darius mengemukakan bahwa sangat mengapresiasi langkah nyata Karantina Kupang dalam pembangunan Zona Integritas, ini sebagai role model dalam pencegahan korupsi di instansi layanan publik. (*/NA)

Sumber berita + foto : Karantina Pertanian Kupang

Editor : Nataniel Pekaata

Cegah ASF, Petugas Karantina Pertanian Wilker Waikelo Musnahkan 70 Kilogram Daging Babi

NTT AKTUAL. KUPANG. Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Kupang Wilayah Kerja Waikelo berhasil mencegah upaya penyelundupan 70 kilogram daging babi asal Bima ke Nusa Tenggara Timur.

Dengan modus disembunyikan dalam box sterofom yang diselipkan diantara box-box ikan untuk mengelabui petugas.

“Berkat kerjasama aparat keamanan dan kesigapan petugas kami, daging babi tanpa surat keterangan sehat dari tempat asal berhasil kita cegah, “kata Kepala Karantina Pertanian Kupang, Yulius Umbu Hunggar saat memberi keterangan, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Umbu Hunggar, daging babi ilegal ini diangkut dengan KM Sabuk Nusantara 49 dan berhasil dicegah bersama dengan Danpos dan KP3 Laut. Selain tidak membawa surat jaminan kesehatan, komoditas ini juga termasuk yang dilarang dilalulintaskan di Nusa Tenggara Timur (NTT), jelas Umbu.

Masih menurut Umbu Hunggar, selain melanggar Undang-undang perkarantinaaan (UU 21/2019, red) tindakan upaya penyelundupan ini juga telah melanggar Aturan Pemerintah Daerah, yakni Surat Edaran Instruksi Gubernur No.3 Tahun 2020 tentang pelarangan sementara pemasukan babi bibit/potong, produk babi maupun hasil ikutan lainnya ke dalam Provinsi NTT.

“Peningkatan pengawasan ini akibat adanya potensi ancaman penyebaran penyakit ASF,” jelas Yulius Umbu Hunggar.

Sebagai informasi, sejak terkonfirmasi terkena wabah Demam Babi Afrika atau penyakit African Swine Fever (ASF), pemerintah pusat bersama dengan pemerintah daerah NTT terus melalukan upaya untuk membasminya, salah satunya dengan peningkatan pengawasan di pintu-pintu pemasukan dan pengeluaran NTT.

Penyakit ASF ini menyerang pada babi dan memiliki tingkat  kematian yang sangat tinggi hingga mencapai 100%. Meskipun penyakit ini tidak menular ke manusia, namun dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi.
 
Virus ASF dapat bertahan lama baik pada daging beku maupun daging yang dikeringkan. Penyebaran penyakit ini dapat melalui kontak langsung antara babi terinfeksi dengan babi sehat.

Selain itu, daging terinfeksi dan tidak dimasak sempurna dapat  menularkan penyakit jika dikonsumsi oleh babi sehat  dalam bentuk limbah restoran atau limbah rumah tangga. Sampai saat ini belum ada  vaksin dan obat yang efektif untuk mencegah maupun menyembuhkan penyakit ini.
 
Sebagai langkah tindaklanjut upaya pencegahan penyebaran penyakit ASF, daging babi ilegal yang berhasil ditegah ini dimusnahkan dengan cara dibakar.

Setelah sebelumnya, Verderika Lobo selaku Pejabat Karantina melakukan tindakan penolakan, namun pemilik daging babi illegal ini  tidak mampu membawa kembali daging babi tersebut ke daerah asal.

Turut hadir menyaksikan para pejabat dari instansi terkait yakni: KP3 Laut, Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, TNI, Polri, Pelindo.
 
Tingkatkan Sinergi dan Edukasi

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengapresiasi tindakan penegahan yang berhasil dilakukan jajarannya.

“Kekayaan sumber daya alam hayati harus kita jaga bersama. Untuk itu peningkatan sinergisitas dengan seluruh jajaran terkait menjadi penting,” kata Jamil.

Dan dengan luas wilayah
tanah air dibandingkan jumlah petugas karantina pertanian yang terbatas maka peran serta masyarakat menjadi yang utama. Mari menjadi bagian dari penjaga negeri dengan melaporkan kepada kami saat melalulintaskan produk pertanian, tutupnya. (*)

Sumber berita + foto : Karantina Pertanian Kupang

Delapan Komoditas Pertanian Asal NTT Diekspor via Perbatasan

NTT AKTUAL. KUPANG. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat ekspor komoditas unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berjalan disepanjang masa pandemi yang masih berkepanjangan.

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Kupang melepas ekspor delapan komoditas pertanian tujuan Timor Leste melalui Pos Lintas Batas Negara Motaain NTT, Rabu (7/10/2020).

Pelepasan ekspor komoditas pertanian oleh Kepala Karantina Pertanian Kupang, drh. Yulius Umbu Hunggar bersama instansi terkait, Rabu (7/10/2020). Dokumentasi : Humas Karantina Pertanian Kupang

“Meski pandemi, lalulintas ekspor tetap berjalan dengan baik dan sebagaimana biasanya, ini disebabkan oleh permintaan ekspor pertanian yang terus bergulir di mancanegara,” ungkap Kepala Karantina Pertanian Kupang, drh. Yulius Umbu Hunggar.

Sepanjang tahun 2020 hingga periode minggu pertama bulan Oktober, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerjanya, Yulius menyebutkan nilai  ekspor pertanian NTT telah mencapai angka Rp 26,6 miliar. Sektor perkebunan berupa kayu jati (meubel jati) yang turut menyumbang ekspor tertinggi dari provinsi NTT selama pandemi ini. Selama bulan September 2020 saja, komoditas ini telah disertifikasi sebanyak 191 meter kubik dengan nilai Rp 2 miliar.

Masih menurut Yulius, komoditas ekspor tersebut telah dipastikan pastikan sehat dan aman dan telah sesuai dengan persyaratan ekspor negara tujuan unggulan dengan menerbitkan sertifikasi jaminan bebas dari penyakit tumbuhan.

“Permintaan kayu jati di pasar ekspor pun terus bergulir meski masa pandemi ini, karena itu kami lakukan serangkaian tindakan karantina untuk pastikan seluruh komoditas yang diekspor terbebas dari organisme pengganggu tumbuhan sebelum sampai di negara tujuan,” jelasnya lagi.

Sebagai informasi, komoditas kayu jati semakin diminati pasar internasional karena hasil dari kayu jati lebih kuat dan bertahan lama. Selama ini kayu jati yang digunakan untuk membuat mebel, kebanyakan didatangkan dari Kabupaten Malaka, di daratan Pulau Timor, NTT.

Tidak hanya kayu jati yang mendulang devisa, adalah kedelai, rumput laut, dan DOC broiler yang juga menjadi komoditas unggulan Provinsi NTT yang diminati mancanegara sepanjang tahun 2020 maupun 2019 lalu.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, mengungkapkan kedepan ragam komoditas ekspor di sektor lainnya juga harus didorong sehingga dapat menembus pasar dunia.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo melalui Program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Komoditas Pertanian (Gratieks) yang saat ini juga sedang menyiapkan binaan di kawasan sentra atau desa. Barantan selalu koordinator peningkatan ekspor yang ditunjuk Menteri Pertanian terus lakukan upaya pengawalan. Tidak hanya dari percepatan layanan, jaminan keberterimaan dan pendampingan pemenuhan persyaratan ekspor, namun langkah operasional yang bersinergi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha dan instansi lainnya.

“Langkah operasionalnya terus kami sinergikan. Harapannya kawasan yang telah menghasilkan  komoditas ekspor dapat lebih ditingkatkan dan bertumbuhnya ragam komoditas ekspor baru,” pungkas Jamil. (*/NA)

Sumber : Humas Karantina Pertanian Kupang

Editor : Nataniel Pekaata