Arsip Tag: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT

Diperkirakan Musim Hujan di NTT Mulai Akhir Oktober, Pemprov Ajak Petani Optimalkan Lahan

NTT AKTUAL. KUPANG. Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengajak seluruh masyarakat NTT untuk mempersiapkan dan mengoptimalkan lahan-lahan yang tersedia untuk berproduksi melalui program TJPS Pola Kemitraan. Sesuai perkiraan BMKG, musim hujan di NTT diprediksi akan dimulai pada akhir Oktober.

“Sesuai dengan hasil koordinasi dengan BMKG, musim hujan di NTT diperkirakan akan terjadi di dasarian tiga artinya di minggu terakhir bulan Oktober. Untuk itu, kita sudah lakukan persiapan dengan memprioritaskan lokasi-lokasi yang curah hujannya mendahului yakni daerah Flores bagian barat. Mengikuti selanjutnya bagi kabupaten-kabupaten lain yang curah hujannya di dasarian pertama bulan November,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli dalam konferensi Pers bersama awak media di Kantor Gubernur NTT, Selasa (27/09/2022).

Didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Prisilia Parera, Kadis Lecky mengajak masyarakat untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada termasuk pekarangan rumah untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui program TJPS Pola Kemitraan. Melalui skema ekositem kemitraan dengan melibatkan lembaga perbankan, offtaker serta lembaga penjamin kredit, ekonomi dan daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global saat ini.

“Dengan solusi ekosistem yang terbangun seperti ini, semua yang diperlukan oleh para petani,sudah ada sebelum dia tanam. Baik itu pupuk, bibit, obat-obatan termasuk sarana produksi disiapkan, sehingga tinggal digerakan untuk masyarakat kerjakan gotong royong untuk mereka berproduksi. Jaminan pasar juga telah disiapkan dengan harga yang telah disepakati sehingga petani tetap bersemangat untuk menanam. Kemarin, bapak Gubernur juga telah berbicara dengan Menteri BUMN agar dana-dana KUR dari Bank Himbara (Himpuna Bank Milik Negara,red) juga dapat menjangkau para petani di desa-desa,” jelas Lecky.

Lebih lanjut Kadis Lecky menjelaskan, untuk tahun 2022, target lahan Program TJPS Kemitraan adalah 105 ribu hektar (ha) lahan. Dengan sasaran, masyarakat petani sebanyak 124 ribu orang, yang sudah ada by name by addressnya.

“Yang sudah kita tanami adalah kurang lebih 37 ribu ha pada musim tanam II dari April sampai September 2022 (Asep,red) dan sudah dipanen serta dijual hasilnya, petani pun sudah mendapatkan keuntungan. Sisanya akan dikerjakan pada musim tanam I Oktober 2022 sampai Maret 2023 (Okmar,red). Kita sudah siapkan kurang lebih 88 ribu ha lahan dan sudah diajukan ke bank pelaksana yakni Bank NTT. Dan sudah dilakukan seleksi (oleh Bank NTT dan Offtaker,red) sekitar 40 ribu ha. Serta sudah dilakukan pencarian tahap pertama untuk petani bisa mulai lakukan penanaman,” kata Lecky.

Selanjutnya, Lecky menguraikan, Target produksi jagung untuk musim tanam I Okmar 2022-2023 adalah 400 ribu ton.
“Dan hasil produksi itu akan kita gunakan untuk kepentingan industri pakan ternak di dalam daerah dan selebihnya kita akan kirim ke luar termasuk ke Surabaya. Dalam jangka pendek kita juga akan bekerjasama dengan Kabupaten Bangli di Provinsi Bali untuk mensuplai kebutuhan jagung bagi mereka dan sebaliknya mereka akan mensuplai kebutuhan daging ayam dan telur ayam untuk NTT khususnya untuk masyarakat pulau Sumba.Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan mengurangi angka kemiskinan,” ujar Lecky.

Seperti diketahui, angka kemiskinan di NTT mengalami penurunan. Sesuai hasil rilis yang disampaikan BPS, Persentase penduduk miskin di NTT pada Maret 2022 sebesar 20,05 persen, menurun 0,39 persen poin terhadap September 2021 dan menurun 0,94 persen poin terhadap Maret 2021. NTT termasuk dalam 10 besar Provinsi di Indonesia dengan penurunan jumlah angka kemiskinan tertinggi dalam periode tersebut.

Hadapi Krisis Pangan, Gubernur Instruksikan Fokus Pengembangan 4 Komoditas

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Lecky juga mengungkapkan, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat juga telah menginstruksikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Dinas terkait lainnya agar fokus pada pengembangan 4 komoditas utama dalam menghadapi krisis pangan dunia yakni jagung melalui program TJPS Kemitraan, Sorgum, Kelor dan Ayam KUB.

“Untuk pengembangan Sorgum, kita akan tanam tahun ini sebanyak 3.500 ha dan tahun depan targetnya 34 ribu ha. Benih Sorgum sudah ada sekitar 11 ton yang berasal dari kabupaten Flores Timur dan kita sudah salurkan ke kabupaten-kabupaten yang dapat alokasi. Terkait Kelor, kita lakukan kerjasama dengan TNI. Kita sedang siapkan 1 juta anakan yang kemudian akan difasiltasi oleh TNI untuk didistribusikan ke masyarakat agar mereka berproduksi dan hasilnya akan dibeli oleh offtaker yang memang sudah dipersiapkan. Pola pengembangan 3 komoditas ini akan menggunakan pola Kemitraan yang sudah dilaksanakan dalam program TJPS sehingga masyarakat tak perlu ragu untuk jaminan pasarnya,” pungkas Lecky. (**)

Sumber berita + foto : Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Panen Benih Bawang Merah di Desa Sumlili

NTT AKTUAL. OELAMASI. Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Lecky Koli, STP, M.Si didampingi Kepala UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi NTT Nixon Balukh, SP, M.Si dan Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Ir. Steven Lay, MM beserta para pejabat dari Dinas Pertanian Kabupaten Kupang, Penyulu Pertanian dan Pengawas Benih Tanaman, melakukan kegiatan panen benih bawang merah seluas 9 Ha varietas Super Philip dan Bima-Brebes pada lahan swadaya milik petani Velky Dethan, Kamis (27/05/2021).

Pada kesempatan ini Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Lecky Koli, STP, M.Si mengatakan bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTT dan untuk pengembangannya baik melalui dukungan pemerintah maupun dengan mendorong lahan-lahan potensial petani secara swadaya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT Lecky Koli, STP, M.Si bersama Kepala UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi NTT Nixon Balukh, SP, M.Si dan rombongan saat melakukan melakukan kegiatan panen benih bawang merah seluas 9 Ha varietas Super Philip dan Bima-Brebes pada lahan swadaya milik petani Velky Dethan, Kamis (27/05/2021). Dokumentasi : Istimewa

“Oleh karena itu kegiatan panen hari ini merupakan salah satu bentuk kepedulian sekaligus mendorong masyarakat petani yang berusaha bawang merah agar tetap terus meningkatkan luas areal tanam, produktivitas dan produksi bawang merah guna memenuhi kebutuhan konsumsi dan juga kebutuhan benih di NTT menuju NTT mandiri benih bawang merah,” ujar Lecky.

Dikesempatan yang sama Kepala UPTD Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi NTT Nixon Balukh, SP, M.Si mengatakan kegiatan pengembangan, pengawasan dan sertifikasi benih bawang merah pada musim tanam April – September dilakukan untuk mendukung ketersediaan benih bawang merah musim tanam Oktober – Maret.

“Dan sebaliknya Kegiatan penanaman di musim tanam Oktober – Maret nanti untuk kebutuhan konsumsi juga untuk penyediaan benih musim tanam April – September,” tutup Nixon. (*/NA)

Penulis + Editor : Nataniel Pekaata

Penandatanganan MoU Tanam Jagung Panen Sapi, Gubernur NTT dan Danrem 161/Wira Sakti

NTT AKTUAL. KUPANG. “Kegiatan ini dilaksanakan guna mendukung Pemerintah Daerah Provinsi NTT dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat, agar masyarakat NTT, Bangkit dan Sejahtera, melalui Program Pengembangan Pertanian Terintegrasi kegiatan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) dengan meningkatkan produksi jagung dan peningkatan populasi ternak sapi”

Hal tersebut disampaikan Danrem 161/Wira Sakti Brigjen TNI Samuel Petrus Hehakaya dalam sambutannya pada Acara Rapat Penandatanganan Naskah Perjanjian Kerjasama (MoU) Pengembangan Pertanian Terintegrasi Antara Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT dengan Korem 161/Wira Sakti, Selasa (1/09/2020) di Swiss Berlin Kristal Hotel, Kupang.

Lebih lanjut, Danrem 161/Wira Sakti mengajak kepada semua pihak untuk saling bahu membahu mesukseskan kegiatan ini. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk Kegiatan Pendampingan Korem 161/Wira Sakti terhadap program Gubernur NTT dalam rangka meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, NTT.

“Untuk itu saya mengajak kita semua beserta seluruh komponen pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur agar senantiasa bergandeng tangan, bersinergi serta berkoordinasi dengan baik dan intensif, sehingga apa yang menjadi tujuan dan sasaran dari kegiatan ini, dapat tercapai secara optimal,” jelas Danrem 161/Wira Sakti.

Dalam kesempatan ini, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat memberikan apresiasi dan terimakasih kepada Korem 161/Wira Sakti yang tidak pernah berhenti mendukung Pemda Prov NTT dan selalu turut serta mensejahterakan Masyarakat NTT.

“Apresiasi dan terima kasih kepada Korem 161/Wira Sakti, yang secara nyata turut serta berperan aktif dalam mensukseskan Tanam Jagung Panen Sapi di Provinsi NTT. Danrem 161/Wira Sakti beserta seluruh jajarannya siap membantu, mendorong dan mensukseskan kegiatan ini. Jadi ini peluang bagus untuk membangun NTT. Kita harus lebih bekerja keras lagi,” tegas Gubernur NTT.

Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (MoU) Pengembangan Pertanian Terintegrasi ini antara Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dengan Danrem 161/Wira Sakti dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dengan Danrem 161/Wira Sakti selaku Kepala Pelaksana Kegiatan (Kalakgiat) Pendampingan Kegiatan TJPS.

Hadir pada kegiatan ini, Gubernur NTT, Kadis Pertanian Provinsi, Para Kadis Pertanian Kabupaten/Kota se Provinsi NTT serta sejumlah undangan lainnya

Tampak mendampingi Danrem 161/Wira Sakti adalah Para Kasi Kasrem 161/Wira Sakti. (*/Red)

Sumber : Penrem 161/WS
Editor : Nataniel Pekaata

Pemprov Intervensi di Sektor Hulu Untuk Tingkatkan Taraf Ekonomi Petani

NTT AKTUAL. KUPANG. Keinginan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) untuk  meningkatkan kehidupan ekonomi petani direspon secara serius oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT. Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lucky Koli menegaskan, dinasnya akan berupaya maksimal untuk melakukan intervensi pada sektor hulu sehingga produktivitas petani semakin meningkat.

“Kita akan maksimalkan musim tanam dua dari April sampai dengan September untuk menanam 10 ribu hektar tanaman jagung untuk dukung program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Tujuannya untuk turunkan tingkat kemiskinan dan mengubah kultur petani yang kurang optimal memanfaatkan musim tanam dua. Implikasi yang ingin dicapai adalah meningkatnya produktivitas petani,” jelas Kadis Lucky saat memberikan keterangan kepada para pekerja pers di ruangan Media Center Kantor Gubernur NTT, Senin (31/08/2020). Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut,  Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius dan Kabag Pers, Dokumentasi, Pengelolaan Pendapat Umum dan Perpustakaan, Diani Ledo.

Menurut Lucky, lahan yang sudah diolah sampai saat ini sebesar 1.400-an hektar yang tersebar di 16 Kabupaten di NTT.Ditargetkan menuju  tahun 2021, ada sekitar 40 ribu hektar lahan yang akan ditanami jagung. Pihaknya, jelas Lucky, telah dan sedang lakukan konsolidasi dengan para Bupati di seluruh NTT.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lucky Koli (tengah) saat memberikan keterangan pers di ruangan Media Center Kantor Gubernur NTT, Senin (31/08/2020). Dokumentasi : Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT

“Kita sudah konsolidasi dengan para Bupati wilayah Sumba untuk mempersiapkan perlahan-lahan serta  tentukan siapa petani yang terlibat dalam program ini dan lahannya di mana. Sampai bulan desember, harus sudah ditetapkan. Kemudian tim teknis akan turun  untuk lihat ketersediaan seperti apa dan lahannya  bagaimana. Musim tanam akan ditutup pada Juni 2021,” jelas Lucky.

Lebih lanjut mantan Kepala Bappelitbangda NTT itu menegaskan, Pemerintah Provinsi NTT serius dalam mendesain program dan merangsang masyarakat agar tetap berada di lahan pertanian.Hal ini dilakukan dengan mengoptimalisasikan sumber daya yang dimiliki. Benih termasuk pupuk dan sarana produksi harus sudah berada di tangan petani paling lambat bulan Maret tahun depan.

“Pemerintah Provinsi akan lebih banyak berada di hulu. Supaya masyarakat petani bisa mempersiapkan produksi, sarana produksi, pupuk, benih dan alat-lat pertanian agar masyakakat bergairah. Minggu depan, sudah disetujui oleh Bapak Gubernur, kita akan distribusikan lewat kapal semua traktor yang kita miliki sejumlah lebih dari  60 unit.  10 unit ke Sumba, 18 unit ke Flores dan sebagian sisanya ke Pulau Timor dan pulau-pulau lainnya.  Sisanya, beberapa tetap ada di Dinas Pertanian Provinsi beserta eksavator untuk dimobilisasi ke tempat yang dibutuhkan. Semuanya ini bisa dipakai untuk mengolah lahan petani secara gratis. Begitu juga alat mesin untuk panen akan didistribusikan ke kabupaten,” jelas Lucky.

Terkait persoalan sumber daya air, Lucky mengungkapkan telah berkoordinasi dengan dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  NTT.  Akan dibangun sekitar  500 sumur. Polanya dalam bentuk bantuan sosial, masyarakat sendiri yang akan buat sumur-sumur tersebut. Tim teknis akan menilai kelayakan sumur tersebut. Selanjutnya, langsung dibayar untuk satu sumur sekitar 50 juta rupiah.  Sumur itu akan dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan serta usaha lainnya.

“Dengan semua upaya ini, kita harapkan petani bisa mengubah pola produksi holtikultura. Menanam tanaman holtikultura seperti sayur , cabe,tomat dan lain sebagainya setiap bulan. Kita desain supaya setiap kabupaten/kota bisa memproduksi tanaman holtikultura  untuk setiap jenisnya di atas lahan sekitar 40 sampai 50 hektar sehingga supply untuk pasar selalu tersedia sepanjang tahun. Nilai ekonomis  untuk masyarakat juga akan meningkat. Demikian juga untuk tanaman  perkebunan seperti kopi, kakao, jambu mente dan kelapa juga akan ditingkatkan produksinya,” jelas Lucky.

Dalam kesempatan tersebut Lucky juga mengungkapkan kesulitan distribusi hasil pertanian dan perkebunan para petani. Keterlibatan swasta di sektor hilir masih menjadi kendala dalam meningkatkan nilai ekonomis petani.

“Konsepnya, kita akan bekerja sama dengan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) agar bisa menjalankan fungsi colecting dan distribusi. Lembaga ini khan punya uang, modal usaha dan sumber daya sehingga bisa kerjasama dengan pihak ketiga atau melemparkan langsung ke pasar. Dengan demikian peran sektor pertanian akan tampak  dalam meningkatkan ekonomi masyarakat petani,” jelas Lucky.

Sementara itu Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius dalam kesempatan tersebut mengungkapkan pola bertani masyarakat NTT yang masih tradisional akan diintervensi oleh Pemerintah Provinsi dengan mekanisasi dan program-program strategis. Terutama untuk wilayah-wilayah prioritas yang penduduk miskinnya masih tinggi.

“Kita tahu sektor pertanian ini merupakan salah satu sektor yang terus bertumbuh positif serta  memiliki sumbangsih besar untuk pertumbuhan ekonomi di masa-masa sulit seperti sekarang ini akibat pandemi covid-19. Gubernur dan Wakil Gubernur sangat serius memajukan Pertanian sebagai supply chain atau rantai pasok utama untuk sektor pariwisata dalam menjadikan para petani NTT sejahtera,” jelas Marius.

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur NTT, VBL dalam acara Coffee morning bersama para wartawan, Jumat (28/08/2020) menegaskan komitmen pemerintah Provinsi untuk meningkatkan taraf hidup para petani NTT. Petani diarahkan untuk menjadi pengusaha tani.

Pengembangan Pertanian Untuk Besipae

Terkait upaya pemanfaatan Lahan milik Pemerintah Provinsi seluas 3.780 hektar di Besipae Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Lucky Koli menjelaskan telah mengirimkan 20 pegawai ke sana. Melakukan survei potensi untuk mengangkat air  dari sungai Noelmina masuk ke Areal Besipae. Kita sudah lihat contohnya di Sumba untuk hal tersebut.

“Kita akan siapkan reservoar sebesar 1 juta meter kubik untuk tampung air dan  didistribusikan untuk kepentingan masyarakat baik untuk pertanian, peternakan dan usaha masyarakat lainnya.  Kita sudah mulai tanam kelor, selanjutnya holtikulura  seperti buah-buahan, sayur-sayuran. Kalau lahan ini juga cocok untuk porang, kita akan jadikan Besipae sebagai sentra  produksi porang. Kita akan berusaha untuk tahap awal bisa menanam pada angka 600 sampai dengan 800 hektar untuk tanaman-tanaman ini. Masyarakat sekitar akan kita ajak terlibat terlibat di dalamnya sehingga bisa meningkatkan enominya,” jelas Lucki. (*/Red)

Sumber : Siaran Pers Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT

Editor : Nataniel Pekaata

Gubernur Audiens Dengan Perwakilan BPTP Balitbangtan NTT

NTT AKTUAL. KUPANG. Bertempat di Ruang Kerjanya Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) beraudiens dengan Perwakilan dari Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan NTT, Kamis (2/07/2020).

Dokumentasi : Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT

Dalam arahannya, Gubernur Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) kembali mengingatkan pihak BPTP bekerjasama dengan Dinas Pertanian Provinsi agar tetap bekerja dan mengawal program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) di NTT.

Dokumentasi : Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT

“Sebagai Gubernur saya minta agar Program TJPS pada lahan seluas 10 ribu hektar harus berhasil,” ungkap Gubernur.

Orang nomor satu di NTT ini mengatakan bahwa apabila 10 ribu hektar lahan yang dipakai untuk program ini berhasil, maka para petani akan naik status, bukan lagi sebagai petani tetapi sebagai pengusaha pertanian. Dengan begini kehidupan mereka akan lebih sejahtera.

“Bicara 1 hektar lahan, berarti bicara tentang petani. Bicara 10 ribu hektar lahan, berarti bicara tentang pengusaha pertanian, dan jika kita bicara 100 ribu hektar lahan, disitu kita akan bicara tentang politik pertanian, dan NTT akan sampai ke level ini,” ujar Gubernur.

Pada tingkat ini, Gubernur mengatakan bahwa bukan saja petani yang diperhatikan, tetapi para pendamping juga harus mendapat hal yang sama. Mereka yang selalu melakukan pendampingan ini harus juga menikmati hasil kerja mereka.

“Saya mau agar para pendamping juga harus memiliki lahan sendiri, dengan demikian bukan petani saja yang menikmati kesejahteraan, tetapi para pendampin juga dapat merasakan keuntungan,” kata Gubernur.

Mantan Anggota DPR RI ini mengajak semua pihak yang terlibat dalam program TJPS ini agar bekerja dilapangan harus memiliki rasa cinta.

“Untuk mengurus barang hidup (Pertanian, Perikanan dan Peternakan), yang diutamakan adalah rasa cinta terhadap apa yang dikerjakan. Karena dengan cinta maka kita pasti akan merawat, memperhatikan bahkan memperlakukannya dengan sangat baik,” ujar VBL.

Sebelum mengakhiri pertemuan ini, Gubernur kembali mengingatkan agar batang, daun dan tongkol jagung yang telah selesai dipanen tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali untuk keperluan pakan ternak.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Ir. Miqdonth S. Abolla, M.Si mengatakan bahwa dalam waktu dekat ini akan dilakukan panen jagung pada lahan seluas seribu hektar di Desa Bena, Kabupaten TTS. Dan pihaknya sementara ini sedang melakukan survey lahan di Desa Oemoro, dan menurutnya ditempat ini memiliki potensi yang sangat baik untuk lokasi pertanian.

Untuk diketahui turut hadir pada kesempatan ini, para peneliti dari BPTP NTT dan juga beberapa pengurus Prisma NTT. (*/Red)

Sumber : Siaran Pers Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT

Editor : Nataniel Pekaata

Gubernur NTT Minta Tiga Dinas Kemakmuran ini Tetap Action di Lapangan

NTT AKTUAL. KUPANG. Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) kembali menyerukan agar tiga Dinas Kemakmuran yakni Dinas Pertanian, Dinas Peternakan dan Dinas Perikanan tetap menjalankan fungsinya dengan baik di lapangan.

Hal ini dikatakan Gubernur Laiskodat saat memimpin rapat dengan seluruh pimpinan OPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT, yang berlangsung di Ruang Rapat Gubernur, Jumat (08/05/2020).

“Memang saat ini kita sedang terkapar dengan adanya covid-19 ini. Tetapi saya tidak mau hal ini menjadi alasan untuk kita tidak bekerja. Selagi kita menggunakan masker dan tetap menjaga jarak saat berada di lapangan, maka virus ini tidak akan tertular ke orang lain. Oleh karena itu sekali lagi saya mengharapkan agar ketiga dinas kemakmuran ini tetap Action di lapangan,” pinta Gubernur.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL). Foto : Istimewa

“Khusus Dinas Pertanian saya minta agar program TJPS yang tersebar di 17 Kabupaten di NTT ini agar secepat mungkin dilaksanakan. Dinas harus mendesain secara baik seluruh persiapan secara terperinci, agar program ini bisa berhasil. Lahannya dimana, luasnya berapa, berapa tenaga kerja yang akan terlibat, semuanya harus di data sehingga kerjanya terarah secara baik, dan harus segera laporkan bulan apa, tanggal berapa, hari apa dan jam berapa akan mulai tanam,” kata Gubernur.

Gubernur yang pada kesempatan ini didampingi oleh Wakil Gubernur NTT, meminta agar Dinas Pertanian juga selalu melakukan koordinasi dengan Dinas terkait.

“Jika ada lahan yang lokasinya jauh dari sumber air, maka segera komunikasi dengan Dinas Pertambangan agar dibuatkan sumur bor. Bisa juga berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk memastikan ketersediaan embung. Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga harus terlibat. Koordinasi dengan Bank NTT dan buatkan Bumdes – Bumdes untuk menampung hasil panen. Cara ini agar para petani bisa terhindar dari para rentenir. Dinas Komunikasi dan Informatika siapkan aplikasi tekhnologi yang dapat menghubungkan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten, bahkan sampai ke tingkat Desa sehingga setiap orang bisa memberikan informasi apabila ada kendala di lapangan. Sedangkan yang tidak kalah penting adalah Dinas Peternakan dalam menyiapkan sapi berkualitas, sehingga ketika hasil panennya dijual, uangnya dapat dipakai untuk membeli sapi. Dinas ini harus mendesain biomassa dari daun jagung dan batang jagung, sehingga tidak terbuang percuma. Dan khusus di pulau Sumba saya mau agar terpusat di Sumba Tengah, karena di sana lahannya masih sangat luas,” ujar Viktor Laiskodat.

Orang nomor satu di NTT ini minta agar para pendamping mampu memberikan bimbingan secara baik kepada para petani.

“Saya minta agar para pendamping dapat menciptakan petani yang rajin dan bertanggung jawab. Harus bisa merubah budaya para petani. Jadikan mereka sebagai pengusaha pertanian,” tandas Gubernur.

“Saya juga minta agar kita semua bekerja secara serius dan bekerja dengan hati. Tugas kita adalah melayani rakyat agar mereka bisa sejahtera. Dan sebagai Gubernur saya juga minta agar seluruh rapat atau pertemuan yang berkaitan dengan program ini agar langsung dilakukan di lapangan, sehingga bisa langsung diikuti dengan pekerjaan,” kata Gubernur kepada seluruh peserta rapat.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus menjelaskan bahwa Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) ini tersebar di 17 Kabupaten di NTT selain Kota Kupang, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Nagekeo, dengan total lahan yang akan digarap sebesar 10.000 hektar.

Masih menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bahwa untuk program TJPS ini tersebar di 330 Desa dengan jumlah Kelompok Tani sebanyak 495 Kelompok, dan melibatkan 20.000 Petani. (*/Red)

Sumber : Sam Babys/Staf Biro Humas dan Protokol NTT